Oleh : Labibah Zain*
Sebuah pertanyaan muncul di Forum Blogger Family, sebuah komunitas weblogger Indonesia beberapa minggu yang lalu. Pertanyaan itu adalah refleksi kebingungan seorang weblogger Indonesia tentang maraknya komunitas Weblogger Indonesia, sebuatan untuk orang-orang yang menulis catatan harian atau pemikiran-pemikirannya di situs internet dan tulisan-tulisan itu bisa diperbaharui setiap waktu, yang bermunculan akhir-akhir ini. Pertanyaan itu adalah "umm tanya dunk bu.. kenapa blogger family engga gabung aja ke blogbugs, sebagai milis yang pertama kali ada, apa karena perbedaan cara pandang? ato gimana tuh? abis trennya sekarang jadi ada dua blok besar di blog indonesia blogbugs dengan blogger family.. nahh gimana ya bu?"(http://www.blogfam.com)
Pertanyaannya sendiri sederhana tetapi menyiratkan kegelisahan seorang blogger yang ketakutan terjadi perpecahan di komunias blogger Indonesia dan menginginkan komunitas blogger Indonesia tetap dalam satu komunitas. Apalagi diperkuat dengan angan-angan eksplisit Enda Nasution, sang bapak blogger Indonesia yang mengatakan "Akan enak rasanya, ketika nanti blogger Indonesia makin banyak, akan tetap ada sebuah wadah bagi para Blogger Indonesia seluruhnya, dan akan menyenangkan kalo wadah itu masih bernama Blogbugs.” (http://enda.goblogmedia.com/blogger-indonesia-riwayatmu-nanti-blogbugs.html )
Sebuah komunitas muncul karena mempunyai persamaan ide, hobby dan tujuan. Begitu juga komunitas blogger Indonesia. Komunitas Blogger Indonesia muncul ketika dunia blog semakin marak dan para blogger itu membutuhkan wadah untuk berbagi informasi baik untuk mempercantik blog dengan design maupun memperkaya isi blog dengan saling berkomunikasi. Bagi yang merasa dunia maya tidak cukup untuk bertegur sapa mereka akan mengadakan pertemuan-pertemuan darat baik untuk saling mengenal lebih dekat ataupun untuk diskusi dalam situasi yang lebih akrab dan menurut Enda, Komunitas Bloggerian adalah komunitas blogger Indonesia dan Blogbugs adalah generasi keduanya yang berhasil mengumpulkan 500 an blogger Indonesia dalam sebuah mailing list (saat tulisan ini ditulis).
Pada perkembangannya, satu komunitas blogger saja tidak cukup. Ibarat sebuah rumah makan, tidak ada satu rumah makanpun yang bisa memuaskan semua pengunjungnya. Munculah Komunitas geografis Blogger. Bandung Blog Village yang mengumpulkan para blogger yang tinggal di Bandung. Komunitas Blogstation bagi para blogger yang ada di Bogor dan Komunitas Angkringan di Yogyakarta.
Sementara itu para ibu yang merasa terlalu “tua” untuk bergabung dalam komuitas-komunitas yang ada tetapi ingin juga mempunyai wadah untuk saling berbagi informasi yang sesuai dengan dunia mereka; dari masak memasak, mengasuh anak sampai mengotak-atik blog tanpa malu-malu. Dan wadah itupun terbentuk dengan nama Blogger Family dengan mengusung motto “We are a Virtual Family”.
Pada Perkembangannya, Komunitas Blogger family ini berkembang dengan pesat dan mendapat sambutan yang hingar bingar dari para member yang ternyata banyak juga yg bukan ibu-ibu, ada bapak2 dan adik-adik, om-om dan tante-tante dari berbagai profesi, dan “family” disini kemudian berkembang dalam artian yg luas. Keluarga yang menawarkan aroma kekeluargaan virtual kepada siapa saja, baik kakak, adek, Paman, tante, ibu, ayah, kakek, nenek hingga para keponakan.
Dengan banyaknya anggota dari berbagai umur dan profesi itu tidak menjadikan tujuan awal berdirinya Blogger family ini berubah . Blogger Family tetap memepertahankan aroma kekeluargaan dengan topic-topik yang berhubungan dengan masalah keluarga.
Dari gambaran diatas, komunitas blogger Indonesia mempunyai ciri khas masing-masing. Blogbugs kuat dengan mailinglist terbesar dilengkapi directory anggotanya, Bandung Blog Village sangat menarik dengan blog bersamanya, Angkringan sangat sarat dengan obrolan-obrolan khas ke “yogya’anya. Dan Blogger Family sangat istimewa dengan nuansa kekeluargaannya dalam bentuk Forum terbesar blogger Indonesia dengan anggota mencapai 450 (sampai saat tulisan ini di buat).
Komunitas blogger Indonesia tersebut idealnya saling melengkapi dan menempatkan komunitas lain sebagai mitra yang sejajar dalam beraktifitas. Usaha-usaha untuk menempatkan komunitas blogger Indonesia dalam satu bendera komunitas tertentu, , tidaklah bijaksana. Para ibu yang sudah nyaman berada di bawah blogger family misalnya tentu saja menjadi agak ‘salah tingkah’ ketika tiba-tiba Blogger family harus berada di bawah Blogbugs. Dan para anak muda yang enerjik di Blogbugs tentu saja membutuhkan penyesuaian kalau tiba-tiba Blogbugs secara organisatoris harus berada dibawah Blogger Family misalnya. Tidak mudah menggabungkan beberapa komunitas yang mempunyai visi yang berbeda. Perlu pembicaraan panjang agar tidak terjadi kesalahpahaman.
Blogbugs nampaknya lebih bijaksana dalam memikirkan kelanjutan komunitas blogger Indonesia. Pada tanggal 4 Juni 2004, tercetuslah “Manifesto Blogbugs” . Manifesto Blogbugs nomor empat yang berbunyi: “. Kami bangga dengan blog; kami berjalan bersama mengikat persaudaraan di antara komunitas blog yang ada.... (http://www.nuniek.com/?nie=&act=detail&id=0000000385) menunjukan bahwa BlogBugs mengahargai komunitas lain dan tidak bermaksud memaksakan diri untuk menjadi wadah dari komunitas yang ada seperti yang dibayangkan banyak orang.
Setiap blogger Indonesia bebas memilih komunitas yang pas dengan kemauannya. Dan sah sah saja untuk merangkap keanggotaan di komunitas apapun sebagaimana sah-sah pula untuk tidak menjadi anggota komunitas manapun. Karena pada dasarnya kalau komunitas blogger yang ada tidak ada yang sesuai dengan minat seorang blogger, maka, dia berhak untuk tidak bernaung dibawah komunitas manapun. Hal ini juga berlaku bagi komunitas Blogger Indonesia. Setiap komunitas bebas membawa benderanya masing-masing sebagaimana bebas pula menentukan koalisi dengan siapa komunitas tersebut mau bergabung.
Wadah secara nasional sangat perlu. Tetapi pembentukannya tidak harus menggabungkan komunitas-komunitas yang ada menjadi satu dibawah bendera sebuah komunitas yang sudah ada. Analoginya adalah Universitas Gadjah Mada boleh saja menjadi universitas tertua di Indonesia. Tetapi persatuan Rektor Indonesia tidak harus dibawah pimpinan Universitas Gadjah Mada. Tetapi memerlukan wadah tersendiri. Demikian juga komunitas Blogger Indonesia. Wadah Blogger Indonesia bisa di bentuk dengan memilih nama tertentu dan melibatkan perwakilan pengurus komunitas blogger Indonesia. Kalau hal ini terjadi maka blogger Indonesia menjadi lebih solid karena aspirasi komunitasnya merasa terwakili.
Montreal, July 2004
Post a Comment